Maret 2004, sulung kami lahir. Bayi laki-laki; cukup sehat, dan lucu. Buah hati yang kami nanti-nantikan setelah kami harus kehilangan yang pertama karena keguguran yang istri alami di kehamilan pertama. Kami namaI dia Daniel.
Ternyata berkat Tuhan pada kami ada seri berikutnya. Bulan Agustus 2005 —hanya 10 bulan setelah kelahiran si sulung— Tuhan mengaruniakan kembali buah hati. Bukan satu, tapi dua bayi laki-laki kembar. Jadi dalam waktu kurang dari setahun, keluarga kami yang tadinya bertiga berubah jadi lima orang. Tiga anak di bawah dua tahun. Bayi, batita, dan bayi lagi.
Rumah kami langsung berubah jadi… yah, kalau ada yang membayangkan perang bantal atau lomba nyaring tangisan minta susu versi nyata, kira-kira seperti itu.
Menyesal? Tentu tidak. Tapi kami pun harus jujur mengakui bahwa kami tidak siap. Adakah yang siap punya tiga anak dalam kurun waktu 10 bulan saja?
Tahun-tahun setelahnya adalah masa paling berat dalam perjalanan keluarga kami.
Kondisi Keuangan
Saya dan istri memang sama-sama bekerja. Waktu itu kami berdua bekerja pada 2 perusahaan swasta yg berbeda. Gaji bulanan kami berdua jika digabungkan ada sekitar Rp 5 juta per bulan. ”Cukup sih!” gumam kami berdua saat memutuskan utk menikah, membina rumah tangga, dan merengkuh cita bersama.
Coba kita hitung bersama:
🏠 Cicilan rumah:
Sebelum menikah, kami berdua memberanikan diri membeli sebuah rumah bekas. Rumah sederhana dg dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Cicilannya mengambil seperlima lebih dari gaji kami. Kurang lebih sekitar Rp 800 ribu.
🏥 Asuransi kesehatan:
Pengalaman istri yg harus dirawat di ICU hingga 2 pekan ditambah 2 pekan lagi di ruang perawatan usai melahirkan si kembar Nathan & Andrew menguras tabungan bahkan memaksa kami utk pinjam sana-sini tak pelak membuat kami trauma. Sehingga kami paksa diri menyisihkan seperempat gaji—sekitar Rp1,2jt —untuk premi asuransi keluarga.
🎓 Tabungan pendidikan:
Sebelum memiliki anak, kami jg sdh memaksa diri utk menyisihkan seperlima penghasilan utk dana pendidikan anak-anak kami kelak. Kami punya tekad: anak-anak harus sekolah yang baik dan layak. Maka seperlima lagi —Rp 1 juta —kami sisihkan untuk dana pendidikan dan asuransi pendidikan anak-anak.
👶 Pengasuh:
Kami pun harus menyewa 2 orang pengasuh paruh waktu untuk ketiga jagoan kami karena kami berdua harus bekerja meninggalkan mereka. Kami harus membayar Rp 1,2 juta untuk kedua pengasuh.
Berarti bagian gaji bulanan kami yang sudah ter-alokasi adalah Rp 800 ribu (rumah) + Rp 1,2 jt (asuransi kesehatan) + Rp 1 jt (asuransi pendidikan) + Rp 1,2 juta (pengasuh) = Rp 4,2 juta total yang sudah terpakai.
Jadi, sisa gaji untuk hidup sebulan kurang lebih cuma Rp 800 ribu saja.
Hidup dengan Sisa yang Ada
Dengan Rp 800 ribu untuk lima orang selama sebulan, untuk apa sisa itu?
🍼 Susu formula untuk tiga balita
🥣 Makanan-makanan khusus bayi (bubur, buah, biskuit)
🏥 Kontrol tumbuh kembang 3 balita rutin ke posyandu atau dokter
🧻 Pampers (kalau ada rezeki lebih, kalau nggak ya pake kain)
⚡ Listrik dan air
🚗 Transportasi
Dan kebutuhan-kebutuhan kecil lainnya yang kerap muncul tiba-tiba
Tiap akhir bulan, kami berdua selalu main tebak-tebakan: “Cukup nggak ya?” Jawabannya hampir selalu: “Nggak.”
Bertindak, Tak Tinggal Diam
Saya ambil keputusan: saya harus cari uang tambahan!
Lembur setiap malam. Kadang sampai jam 10. Kadang jam 12. Tak jarang sampai jam 2 atau 3 pagi kl pas ada proyek atau pekerjaan sampingan yg bisa saya ambil —yang penting halal dan dibayar.
“Untuk masa depan anak-anak. Ini untuk keluarga,” gumam saya waktu itu.
Istri sih nggak pernah komentar.. Dia hanya diam. Kadang saya pulang, dia masih terjaga dengan mata sembab, bergantian menidurkan tiga balita yang tentu saja sering bangun bergiliran.
Yang ada dalam hati dan pikiran ini hanyalah usaha untuk menjaga masa depan mereka, tanpa berpikir bahwa saya mungkin mengorbankan “masa kini” mereka.
Foto yang Menjadi Saksi
Suatu malam, saya pulang larut. Jam menunjukkan hampir 2 pagi.
Saya buka pintu pelan-pelan, takut membangunkan. Tapi dari kamar, lampu masih redup menyala. Saya mengintip.
Istri terkasih duduk di lantai, membelakangi pintu. Tiga botol susu berjejer di depannya. Tiga jagoan kami melingkar, masing-masing memegang botolnya sendiri, minum susu sebelum tidur. Mereka belum tidur. Mungkin baru terbangun karena lapar dan haus. Mungkin karena menunggu saya pulang. Entah..
Saya ambil ponsel. Tanpa mereka sadari, saya ambil foto itu.
Foto itu sampai sekarang masih ada di galeri saya. Tiga anak dengan tiga botol susu.. Satu ibu yang lelah, dan satu ayah yang selalu pulang malam.
Saya menatap foto itu dan menangis di ambang pintu.
Diri tersadar: telah melewatkan begitu banyak. Dan akan melewatkan lebih banyak; mereka belajar tengkurap. kata pertama yang bisa mereka ucapkan, tawa mereka saat mandi.. momen-momen kecil yang tak akan pernah kembali!
Untuk apa? Untuk uang lembur yang besoknya habis buat beli susu lagi!
Keputusan Baru
Malam itu juga saya berjanji pada diri sendiri: ada yang harus berubah.
Bukan berhenti cari uang tambahan. Kebutuhan tidak bisa menunggu. Tapi saya mulai berpikir ulang: “Apakah dengan terus seperti ini saya justru akan kehilangan apa yang sebenarnya ingin saya perjuangkan?”
Perlahan, saya mulai atur waktu. Lembur tidak setiap malam.
Dan..
Saya mulai cari proyek atau usaha sampingan yang tidak menuntut kehadiran saya terus menerus. Mencoba memulai usaha sendiri. Sedapat mungkin yg bisa saya kerjakan dari rumah. Kalau sekarang mungkin akan disebut dengan “work from everywhere/” Semua dg maksud untuk mendapatkan pemasukan tambahan sekaligus waktu yg cukup utk keluarga kecil saya.
Yang paling penting: saya dan istri mulai sering ngobrol. Bukan terus soal keuangan. Tapi soal kami berdua dan tiga jagoan kami.
“Kamu capek, nggak?”
“Saya bisa bantu apa urusan rumah dan anak-anak?”
“Besok saya pulang cepat, yuk bawa anak-anak main ke taman!”
Percakapan-percakapan kecil itu yang ternyata lebih menghadirkan senyum daripada uang lembur.
Nggak instan. Nggak dramatis. Tapi pelan-pelan, rumah kami terasa lebih hangat.
Sekarang..
2026,
Daniel sudah menyelesaikan kuliahnya. Sedang menunggu jadwal wisudanya saja.
Si kembar —Nathan dan Andrew —juga sudah jadi mahasiswa. Mereka berdua kuliah jauh di Surabaya. Yang satu sudah semester 5, yan satunya masih semester 3 karena sempat mengajukan pindah jurusan yang ia urus semuanya sendiri. Mereka berdua sangat mandiri.
Rumah dua kamar itu masih kami tempati. Cicilannya sudah lunas beberapa tahun lalu.
Kami berdua –istri dan saya –masih sering sama-sama sibuk. Juga masih kerap saling salah paham. Tapi kami punya satu pegangan: foto itu.
Setiap kali saya merasa terlalu sibuk, merasa lebih penting, terlalu dikejar target, saya buka galeri dan melihat tiga bayi dengan tiga botol susu. Saya ingat lagi: “Dulu kamu hampir kehilangan momen-momen bersama mereka. Bersyukurlah!”
Kami tidak punya bisnis besar; apalagi rumah mewah. Kami berdua cuma punya pengalaman yang mungkin bisa jadi bahan belajar yang membacanya. Dan pengalaman itu mengingatkan kami bahwa yang paling berharga bukan yang bisa dibeli dengan menghabiskan waktu bersama anak-anak demi uang lemburan.
Anak-anak kami mungkin tidak tumbuh dengan segala fasilitas. Tapi mereka tumbuh dengan orang tua yang —meski sering salah —terus belajar untuk hadir dalam setiap momen penting mereka.
Bagi kami, itu sudah lebih dari cukup.
Pengalaman Utk Pelajaran Bersama
Semoga sharing pengalaman ini berguna bagi para orang tua muda di luar sana;
Yang saat ini sedang bergumul dengan hal yang sama,
Yang sering pulang malam untuk lembur lalu merasa bersalah,
Yang bingung antara beli susu atau bayar cicilan,
Yang kadang ingin menyerah,
Yang bertanya dalam hati, “Apakah yang saya perjuangkan ini benar?”
Kami pernah di posisi itu. Dan kami bertahan. Semoga kalian pun mau terus bertahan.
Kami beranikan diri membagikan pengalaman ini, bukan karena kami hebat. Tapi karena kami memilih untuk terus belajar, dan terus berbagi; bahwa uang bisa dicari, tapi momen-momen kecil yang kita lewatkan bersama orang-orang yang kita cintai tak akan kembali.
Kalau Anda sedang di fase berat saat ini, ketahuilah: Anda tidak sendiri! Boleh cerita di kolom komen. Siapa tahu dengan berbagi, beban terasa lebih ringan.Kami rindu utk membacanya satu per satu.
Semangat!